Rabu, 01 Juni 2016
FUNGSI MANAJEMEN
BAB III
FUNGSI MANAJEMEN
A. Perencanaan
Perencanaan pada hakekatnya adaah proses pengambilan keputusan yang di pakai sebagai dasar bagi kegiatan atau aktivitas dimasa datang dalam rangka mencapai tujuan . Proses ini memerlukan pemikiran tentang apa yang akan di kerjakan , mengapa, bagaimana, dan dimana kegiatan tersebut di lakukan serta siapa saja yang terlibat dan bertanggung jawab dalam pekerjaan tersebut.
Pererncanaan merupakan proses yang tidak adan pernah berakhir, rencana harus di implementasikan, selama implementasi perlu ada pengendalian bila perlu ada penyesuaian-penyesuaian. Organisasi harus terus menerus mengadakan trend watching, artinya selalu mengamati trend perubahan yang akan terjadi di masa depan (Mulyadi, 2001).
Perencanaan yang di buat berguna untuk ( basu swasta, 1993):
a. Mengurangi ketidak pastian dan perubahan pada waktu mendatang. Tidak berarti rencana yang telah disusun harus dilakukan, namun pada kondisi tertentu harus ada penyesuaian-penyesuaian. Masa yang akan datang akan selalu terjadi perubahan, maka harus di lakukan trend watching seperti yang di kemukakan di muka.
b. Mengarahkan perhatian pada tujuan. Perencanaan di buat sebagai penentu arah pencapaian tujuan. Tujuan ini yang akan di tuju semua anggota organisasi;
c. Penghematan biaya. Dengan adanya perencanaan memungkinkan adanya penghematan. Misalnya aktivitas yang tidak perlu bisa di kurangi, sehingga terjadi efesiensi.
d. Merupakan sarana pengendalian. Hasil kerja yang telah di lakukan seseorang sulit diukur apabila tidak ada perencanaan terlebih dahulu yang akan dipakai sebagai tandar.
Langkah-langkah proses perencanaan adalah sebagai berikut:
a. Mengenali dan pembatasan masalah. Setiap meyusun rencana harus jelas masalah dan batasanya.
b. Mengumpulkan data. Setelah masalah dan pembatasanya jelas dikumpulkan data yang sesuai dengan masalah tersebut yang nanti akan berguna untuk memecahkan masalah.
c. Menganalisa data, data yang dikumpulkan dan cukup iti yanf akan di analisa.
d. Mengambil kesimpulan. Setelah data di analisa kemudian di ambil kesimpulan dan di rumuskan sebagai alternatif tindakan.
e. Memilih alternatif. Setelah di kemukakakn alternatif kemudian di ambil alternatif yang lebih baik untuk menyelesaikan masalah yang telah di rumuskan.
f. Langkah terakhir dalam perencanaan adalah mempersiapkan keputusan (alternatif) yang telah di ambil , guna di formulasikan menjadi rencana-rencana kegiatan.
Klasifikasi perencanaan sebagai berikut :
1. Frekuensi
a. Insidental
perencanaan yang di buat untuk kegiatan dan masalah yang bersifat insidental.
b. Rutin
Perencanaan yang di lakukan secara rutin untuk kegiatan yang di lakukan berulang-ulang.
Sesuai frekuensinya perencanaan dapat di bagi sebagai perencanaan satu kali pakai dan perencanaan berulang-ulang.
2. Menurut daya laku
a. Perencanaan jangka pendek
Perencanaan tersebut berjangka waktu sampai satu tahun.
b. Perencanaan jangka menengah atau sedang
Perencanaan berjangka waktu antara satu tahun smpai dengan lima tahun
c. Perencanaan jangka panjang
Jangka waktu lebih dari 5 tahun.
d. Darurat
Perencanaan yang di buat dalam keadaan darurat, dan segera diadakan peninjauan kembali setelah keadaan kembali normal.
e. Sementara
Perencanaan yang di buat untuk menunggu ketentuan lebih lanjut, setelah ada kejelasan masalahnya.
f. Devinitif
Perencanaan bersifat final atau tetap, tidak ada perubahan lagi kecuali ada kondisi yang mengaharuskan adanya peninjauan kembali.
3. Di tinjau dari prioritas
a. Perencanaan sangat penting
Perencanaan yang harus di buat, karena berhubungan dengan berhasil atau tidaknya suatu oerganisasi tersebut.
b. Perencanaan penting
Perencanaan yang di buat dalam rangka mengurangi ketidak pastian, mengurangi kerugian material dan non material.
c. Perencanaan biasa
Perencanaan yang di buat untuk kegiatan sehari-hari atau bersifat rutin, bermaksud agar tugas dilaksanakan secara teratur,sehingga tidak terjadi kerugian dan pemborosan.
d. Formalitas
Perencanaan yang sebenarnya tidak perlu ada tapi di buat untuk memenuhi tunutan yang ada.
4. Menurut fungsi
Perencanaan menurut fungsinya dapat di bagi menjadi perencanaan keuangan, perencanaan produksi, perencanaan pendidikan, perencanaan pegawaian dan sebagainya tergantung fungsi organisasinya.
5. Menurut ruang lingkupnya
Perencanaan ini dibagi menjadi perencanaan profinsi, kabupaten, sekolah, dan perencanaan sektoral. Menurut ruang lingkupnya juga dapat di bagi sebagai perencanaan strategik, menejerial dan oprasional. Dan dapat menjadi perencanaan makro, mezo dan mikro.
6. Menurut formalitas.
a. Resmi
Perencanaan yang tertulis secara lengkap dengan ketentuan-ketentuan tertentu, berdasar peraturan tertentu dan dilaksanakan oleh orang yang di beri kewenagan untuk itu di lakukan pengawasan tertentu untuk kegiatan tersebut.
b. Tidak resmi
Perencanaan yang tidak tertulis secara lengkap di buat hanya untuk pedoman secara garis besar saja.
Perencanaan pendidikan saat ini menggunaka proporsi sebagai berikut:
1. Harus menggunakan perencanaan jangka panjang, karena hasil dari pendidikan bisa di lihat setelah beberapa tahun kedepan;
2. Harus konperhensif,harus meliputi seluruh sistem pendidikan, yaiti sistim formal dan non formal;
3. Harus diintegrasikan kepada pembangunan ekonomi soial budaya politik dan hankam;
4. Harus menjadi bagian integral dari manajemen pendidikan, perencanaan pendidikan harus berhubungan dengan proses pengambilan keputusan dan pelaksanaanya;
5. Harus memperhatikan kwantitas dan kwantitas pendidikan, harus direncanakan dengan memperhatikan relevansi ,efesiensi, dan efektifitas
Dalam merencanakan pendidikan perlu memperhatikan masalah pokok sebagai berikut:
a. Menentukan prioritas tujuan dan fungsi sistem pendidikan dan sub-sistemnya;
b. Memilih cara yang baik untuk mencapai tujuan dan fungsi tersebut;
c. Bagaimana perbandingan sumberdaya yang di miliki masyarakat dialokasikan untuk pendidikan dibandingkan untuk peruntukan yang lain;
d. Bagaimanakah pembiayaan pendidikan di lakukan dan distribusi kan ke masyarakat ke masyarakat , dan siapa saja yang membiayai pendidikan;
e. Bagaimana sumberdaya pendidikan di alokasikan untuk masing-masing jenis dan komponen pendidikan.
Suatu rencana di katakan baik jika :
a. Mempermudah tujuan yang di tentukan sebelumnya;
b. Bersifat luwe, artinya mengandung kemungkinan perubahan sesuai dengan perkembangan dan situasi yang terjadi;
c. Bersifat rasional, di susun berdasar fakta dan data, bukan berdasar khayalan dan dugaan;
d. Bersifat sederhana, mudah di mengerti pelaksana;
e. Bersifat praktis,tidak bersifat abstrak dan idialis;
f. Punya daya guna,hasil pelaksanaan suatu rencana benar-benar dapat di rasakan manfaatnya, baik bagi diri sendiri atau masyarakat luas (Wursanto, 1987).
B. Pengorganisasian
Pengorganisasian adalah usaha menyusun komponen-komponen organisasi untuk mencapai tujuan organisasi secara efektif dan efisien. Aspek-aspek yang tercermin dalam struktur organisasi meliputi (T. Hani Handoko, 1994):
1. Pembagian kerja
Pengelolaan organisasi untuk menunjukkan kerangka dan susunan perwujudan pola tetap hubungan-hubungan diantara fungsi, bagian maupun orang yang menunjukkkan kedudukan, tugas, wewenang dan tanggung jawab yang berbeda-beda setiap komponen organisasi.
Faktor-faktor yang menentukan perencanaan struktur organisasi adalah sebagai berikut :
a. Strategi organisasi untuk mencapai tujuan
b. Teknologi yang digunakan
c. Anggota yang terlibat
d. Ukuran organisasi
2. Departemenisasi
Pendekatan yang dilakukan dalam departemenisasi, diantaranya :
a. Departemenisasi fungsional, yaitu mengelompokkan pekerjaan berdasarkan fungsinya.
b. Departemenisasi divisional, yaitu mengelompokkan kegiatan dengan menggunakan divisi apabila pengelompokan fungsi tidak memadai.
3. Bagan organisasi formal, rantai perintah dan kesatuan perintah, tingkat hierarki manjemen, saluran komunikasi
Struktur organisasi yang dipilih dan disusun akan menunjukkan secara formal bagan organisasinya sesuai dengan pembagian kerja dan departemenisasi yang dipilih. Dimana dengan bagan tersebut akan menunjukkan rantai perintah dan kesatuan perintah, serta tingkat hierarki manajemen dan saluran komunikasi.
4. Penggunaan komite
Pembentukan komite biasanya dilandasi pemikiran bahwa orang yang mempunyai kemapuan keterampilan dan pengalaman yang berbeda-beda apabila bekerja sama untuk menyelesaikan masalah yang menghasilkan keputusan lebih baik.
5. Rentang manajemen dan kelompok-kelompok informal yang tidak dapat dihindarkan.
Organisasi informal memainkan peranan yang penting dalam dinamika perilaku organisasi (Gibson dkk. 1999) alasannya, kebutuhan manusiawi tidak dapat tercapai hanya dari hubungan formal. Istilah-istilah lain rentang manajemen adalah span of control, span of authority, span of attention atau span of supervision. Masalah-masalah yang harus diperhatikan dalam rentang manajemen : a. differentiation and integration, b. centralization and decentralization dan c. standardization and mutual adjustment (Jones, G R. 2001).
Organisasi pendidikan di Indonesia (formal) terdiri dari struktur organisasi :
a. Depdiknas Pusat,
b. Dinas Pendidikan Nasional Propinsi/wilayah,
c. Dinas Pendidikan Nasional Kabupaten/Kota,
d. Dinas Pendidikan Nasional Kecamatan, dan
e. Sekolah.
C. Pengarahan
Pengarahan merupakan fungsi yang sangat kompleks, disamping menyangkut hubungan manusia juga menyangkut perilaku manusia yang beraneka ragam. Fungsi ini menunjukkan aktivitas penyusunan staf, koordinasi, perintah, kepemimpinan, dan pelaporan.
Pada dasarnya, pengarahan berkaitan dengan :
a. Motivasi,
sesuatu yang mendorong seseorang bertindak atau berperilaku.
b. Komunikasi,
proses penyampaian pesan dari seseorang atau sekelompok orang kepada orang lain atau sekelompok orang.
c. Dinamika kelompok,
Kelompok dalam organisasi terjadi karena dibentuk oleh organisasi, dan juga terbentuk karena kepentingan karyawan dan persahabatan.
d. Kepemimpinan.
D. Pengendalian
Manajemen yang baik memerlukan pengendalian yang efektif guna memastikan bahwa aktivitas atau kegiatan berjalan sesuai dengan perencanaan.
Kegiatan dalam pengendalian meliputi:
a. Pengukuran, yaitu mengukur hasil atau output dari aktivitas yang dilakukan.
b. Membandingkan dengan standar, membandingkan hasil hasil ukuran yang diperoleh dengan standar yang ada, atau rencana yang telah dibuat, atau membandingkan dengan kegiatan yang sejenis.
c. Memperbaiki penyimpangan, yakni apabila ditemukan penyimpangan diusahakan ada perbaikan.
Faktor yang perlu dilakukan adanya pengendalian:
a. Adanya perbedaan antara tujuan organisasi, individu, maupun kelompok.
b. Adanya jarak waktu antara perencanaan dengan pelaksanaan, sementara lingkungan organisasi bersifat dinamis.
c. Masalah yang dihadapi organisasi sangat kompleks.
d. Berbagai karakteristik karyawan yang tidak luput dari kesalahan.
Pengendalian dilakukan dalam rangka meningkatkan efisiensi. Oleh karena itu, pengendalian dipilih suatu cara atau metode dengan biaya minimal, dalam arti biaya pengendalian harus lebih kecil dari manfaat yang didapatkan.
Pengendalian pendidikan selama ini bersifat sentralistik, dimana peran kepala sekolah sangat minimal. Dengan dikembangkannya otonomi daerah, otonomi sekolah dan manajemen berbasis sekolah, pengendaliaa pendidikan di sekolah sangat bergantung pada pimpinan sekolah dan masyarakat sekolah lainnya. Pengendalian dapat dilakukan pada rencana, pelaksanaan maupun berdasarkan hasul atau umpan balik yang diterima.
TIM MDMK, 2016, MANAJEMEN PENDIDIKAN (KONSEP DAN IMPLIKASINYA), Surakarta:Universitas Muhammadiyah Surakarta
Kamis, 12 Mei 2016
CONTOH PENELITIAN
Prestasi
Belajar Mahasiswa dalam Dimensi Aktivitas Organisasi Himpunan Mahasiswa Program
Studi Pendidikan Akuntansi dan Motivasi Belajar
BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang Masalah
Tujuan pendidikan nasional menurut UU
nomor 20 tahun 2003 bab II pasal 3 adalah untuk berkembangnya potensi peserta
didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Mha Esa,
berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga
negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Himpunan Mahasiswa adalah organisasi
mahasiswa di tingkat jurusan atau program studi di suatu perguruan tinggi.
Keberadaan himpunan mahasiswa haruslah berdasarkan prinsip dari, oleh dan untuk
mahasiswa. Himpunan mahasiswa jurusan atau program studi merupakan media bagi
anggotanya untuk mengembangkan pola pikir dan kepribadian yang berkaitan dengan
disiplin ilmunya agar siap terjun ke masyarakat. (Sumber Wikipedia).
Pada hakikatnya belajar menunjukkan
adanya perubahan yang sifatnya positif sehingga pada tahap akhir akan diperoleh
keterampilan, kecakapan dan pengetahuan baru. Hasil dari proses belajar
tersebut tercermin dalam prestasi belajarnya. Namun dalam upaya meraih prestasi
belajar yang memuaskan dibutuhkan proses belajar.
Menurut Irwanto (1997:105) belajar
merupakan proses perubahan dari belum mampu menjadi mampu dan terjadi dalam
jangka waktu tertentu.
Prestasi belajar menurut Yaspir
Gandhi Wirawan dalam Murjono (1996 :178) adalah “hasil yang dicapai seorang
siswa dalam usaha belajarnya sebagaimana dicantumkan di dalam nilai rapornya.
Melalui prestasi belajar seorang siswa dapat mengetahui kemajuan-kemajuan yang
telah dicapainya dalam belajar.”
Untuk menjadi mahasiswa sebagai
calon tenaga pendidik yang berkualitas, selain berprestasi dalam bidang
akademik maupun non akademik, perlu didukung pula memiliki lima kemampuan dasar
menurut Helmi dalam bukunya yang berjudul “Model Mahasiswa yang Berdaya Saing” yaitu
Intelegent Quotient (IQ), Emotional Quotient (EQ), Spiritual
Quotient (SQ), Information and Technology (IT) dan English
Skill.
Organisasi berperan penting dalam
pengembangan softskill mahasiswa. Keterlibatan mahasiswa secara aktif
dalam organisasi mampu meningkatkan kemampuan softskill. Kemampuan softskill
tersebut dibuktikan melalui peningkatan kecerdasan emosional (Emotional
Quetient/ EQ). Aktifitas mahasiswa dalam berorganisasi selain berpengaruh
terhadap perkembangan Intelegent Quotient (IQ), juga mempengaruhi tingkat
keceradasan secara emosional. Pengembangan EQ mahasiswa dapat dilakukan melalui
berbagai kegiatan intra maupun ekstra kampus. Sebagai contoh, keterlibatan dan
keaktifan mahasiswa dalam organisasi intra kampus dapat mengasah dan memotivasi
kemampuan bersosialisasi, baik antar pelaku pendidikan maupun lingkungan
sekitar dan kemudian dapat meningkatkan tingkat kecerdasan secara emosional.
IQ bukanlah satu-satunya faktor
penentu keberhasilan prestasi belajar seseorang. Ada faktor-faktor lain yang
turut andil mempengaruhi perkembangan prestasi belajar. Sehubungan dengan hal
tersebut diperoleh kesimpulan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi
belajar antara lain sebagai berikut: 1) pengaruh pendidikan dan pembelajaran
unggul; 2) perkembangan dan pengukuran otak; dan 3) kecerdasan (intelegensi)
emosional (http://ditptksd.go.id, 2008).
Sementara itu, Sunarto (2009) mengungkapkan
bahwa faktor-faktor yang dapat mempengaruhi prestasi belajar dan
mengklasifikasikannya menjadi dua bagian, yaitu: 1) faktor-faktor intern; dan
2) faktor-faktor ekstern.
Faktor-faktor intern, yakni
faktor-faktor yang berasal dari dalam diri seseorang yang dapat mempengaruhi
prestasi belajarnya. Di antara faktor-faktor intern yang dapat mempengaruhi
prestasi belajar seseorang adalah antara lain: 1) kecerdasan/intelegensi; 2)
bakat; 3) minat; 4) motivasi. Adapun faktor-faktor ekstern, yaitu faktor-faktor
yang dapat mempengaruhi prestasi belajar seseorang yang sifatnya berasal dari
luar diri seseorang tersebut. Yang termasuk faktor-faktor ini adalah antara
lain: 1) keadaan lingkungan keluarga; 2) keadaan lingkungan sekolah; dan 3)
keadaan lingkungan masyarakat (Sunarto, 2009).
Aktivis menurut
KBBI adalah orang (terutama anggota organisasi politik, sosial, buruh, petani,
pemuda, mahasiswa, wanita) yg bekerja aktif mendorong pelaksanaan sesuatu atau
berbagai kegiatan dl organisasinya; dalam dunia politik dan pemerintahan
artinya seseorang yg menggerakkan (demonstrasi dsb). Sedangkan aktivitas organisasi ialah serangkaian kegiatan dimana orang-orang
yang terlibat didalamnya memiliki tempat dan tujuan yang ingin dicapai bersama
demi kepentingan bersama pula.
Mahasiswa yang aktif berorganisasi secara konsisten
semata-mata memiliki pemahaman bahwa organisasi kemahasiswaan merupakan sebuah
sarana yang efektif dalam meng-kader dirinya sendiri untuk ke depan,
dimana yang diharapkan ialah dengan aktif berorganisasi khususnya pada
organisasi Himpunan Mahasiswa program Studi Pendidikan Akuntansi, output
mahasiswa dapat memiliki prestasi belajar yang tisak hanya mengunggulkan IQ
saja, namun kecerdasan emosional yang baik agar dapat terimplementasi di dunia
kemasyarakatan.
Sering kali digambarkan bahwa
mahasiswa yang aktif berorganisasi tetapi memperoleh Indeks Prestasi Kumulatif
(IPK) rendah, namun yang tidak aktif berorganisasi dapat mencapai nilai yang cumlaude,
hal itu tidak bisa diputuskan sepihak, karena banyak juga aktivis yang mendapat
nilai IPK cumlaude. Menurut Ulyatu Diniawati
(2010), hal itu kembali kepada masing-masing individu. Yang rugi adalah bukan
aktivis yang memperoleh IPK rendah, tetapi mahasiswa yang bukan aktivis yang
memperoleh IPK rendah.
Bertolak
dari paparan di atas, peneliti tertarik untuk mengangkat permasalahan tesebut
dalam sudul penelitian ”Prestasi
Belajar Mahasiswa dalam Dimensi Aktivitas Organisasi Himpunan Mahasiswa Program
Studi Pendidikan Akuntansi dan Motivasi Belajar”.
B.
Identifikasi Masalah
Relevan dengan latar belakang
sebelumnya, maka masalah-masalah yang teridentifikasi adalah sebagai berikut:
1.
Kajian-kajian
teoritis memperlihatkan bahwa dalam prestasi belajar dipengaruhi oleh beberapa
faktor yaitu keaktifan berorganisasi dan motivasi belajar mahasiswa.
2.
Faktor
keaktifan organisasi dan motivasi belajar terpilih sebagai faktor yang
mempengaruhi prestasi belajar, karena memiliki beberapa masalah urgen sebagai
berikut:
a.
Persentase
keaktifan mahasiswa dalam berorganisasi di Himpunan Mahasiswa Program Studi
Pendidikan Akuntansi sangat sedikit, kecerdasan emosional sangat menunjang
prestasi belajar.
b.
Motivasi
belajar yang kurang optimal
c.
Perlunya
keseimbangan antara kecerdasan IQ dan EQ agar tercapai prestasi belajar.
C.
Batasan dan Rumusan Masalah
Seperti terlihat dalam identifikasi
masalah banyak kemungkinan hubungan yang dapat dipilih sebagai kajian
penelitian. Namun tidak semua hubungan dikaji, tetapi hanya keaktifan
organisasi dan motivasi belajar mahasiswa yang terpilih menjadi faktor yang
mempengaruhi prestasi belajar. Untuk memperjelas hal tersebut, variabel-variabel dan
hubungan-hubungan dalam penelitian ini dibatasi sebagai berikut:
1.
Pengaruh
aktivitas organisasi secara parsial (mandiri) terhadap prestasi belajar.
2.
Pengaruh
motivasi belajar secara parsial (mandiri) terhadap prestasi belajar secara
parsial.
3.
Pengaruh
aktivitas organisasi dan motivasi belajar secara simultan (bersama) terhadap prestasi
belajar.
Sesuai dengan hubungan yang telah
dibatasi tersebut, maka rumusan masalahnya adalah sebagai berikut:
1.
Apakah
aktivitas organisasi berpengaruh terhadap prestasi belajar?
2.
Apakah
motivasi belajar berpengaruh terhadap prestasi belajar?
3.
Apakah
aktivitas organisasi dan motivasi belajar berpengaruh terhadap prestasi belajar?
D.
Tugas dan Manfaat Penelitian
Tujuan
penelitian ini sesuai dengan rumusan masalah di atas, yakni:
1.
Menguji
pengaruh aktivitas organisasi Himpunan Mahasiswa Program Studi terhadap prestasi
belajar.
2.
Menguji
pengaruh motivasi belajar terhadap prestasi belajar.
3.
Menguji
pengaruh aktivitas organisasi Himpunan Mahasiswa Program Studi dan motivasi
belajar terhadap prestasi belajar.
Penelitian
ini diharapkan dapat bermanfaat untuk hal-hal sebagai berikut:
1.
Membuktikan
wacana teoritis dalam ilmu perilaku organisasi dan manajemen sumber daya
manusia.
2.
Referensi
bagi peneliti berikutnya dalam mengkaji masalah yang sama di masa mendatang.
BAB
II
LANDASAN
TEORI
A.
Landasan Teori
1.
Prestasi belajar
Prestasi belajar berasal dari kata
“Prestasi” dan “Belajar”. Menurut Sugono (2008), Prestasi merupakan hasil yang
telah dicapai dari yang telah dilakukan dan dikerjakan. Sedangkan pengertian
dari belajar menurut Syah (2010) adalah tahapan perubahan seluruh tingkah laku
individu yang relatif menetap sebagai hasil pengalaman dan interaksi dengan
lingkungan yang melibatkan proses kognitif.
Prestasi belajar menurut Gunarso (1993:
77), Winkel (1996:226), Harjati ( 2008: 43 ), Hetika ( 2008: 23 ), Asmara. 2009
: 11 ) adalah bukti keberhasilan seseorang setelah melakukan usaha-usaha
belajar yang lazimnya ditunjukkan dalam tes angka nilai untuk menunjukkan
pencapaian dalam hasil kerja yang dinampakkan dalam keahlian atau kumpulan
pengetahuan dalam waktu tertentu.
2.
Aktivitas organisasi
Aktivis menurut
KBBI adalah orang (terutama anggota organisasi politik, sosial, buruh, petani,
pemuda, mahasiswa, wanita) yg bekerja aktif mendorong pelaksanaan sesuatu atau
berbagai kegiatan dl organisasinya; dalam dunia politik dan pemerintahan
artinya seseorang yg menggerakkan (demonstrasi dsb).
Keaktifan menurut Sugono (2008) berasal
dari kata “aktif” yang berarti kegiatan; kesibukan Sedangkan menurut Nurdiana
(2007), keaktifan merupakan suatu perilaku yang dapat dilihat dari keteraturan
dan keterlibatan seseorang untuk aktif dalam suatu kegiatan. Menurut Gibson,
dkk (1995), organisasi adalah suatu unit yang terkoordinasi yang terdiri atas
setidaknya 2 orang yang berfungsi untuk mencapai tujuan umum. Pengertian
organisasi juga dikatakan oleh Thoha (2007) bahwa organisasi adalah
kolektivitas orang-orang yang bekerja sama secara sadar dan sengaja untuk
mencapai tujuan tertentu.
3.
Motivasi belajar
Menurut Sardiman (2001: 71) dan
Dalyono dalam buku Psikologi Pendidikan (2005: 55), motivasi berasal dari kata “motif”
yang diartikan sebagai daya penggerak yang telah menjadi aktif untuk melakukan
sesuatu pekerjaan, yang bisa berasal dari dalam diri dan juga dari luar. Sedang
menurut Sardiman (2003: 75), motivasi belajar adalah merupakan faktor psikis yang
bersifat non-intelektual.peranannya yang khas adalah dalam hal penumbuhan
gairah, merasa senang dan semangat untuk belajar.
B.
Hipotesis
Mengingat
adanya tiga hubungan seperti pada kerangka konseptual di atas, maka hipotesis
dalam penelitian ini juga terdapat tiga buah, diantaranya:
1.
Hipotesis
pertama: Aktifitas organisasi Himpunan Mahasiswa Program Studi berpengaruh
positif terhadap prestasi belajar mahasiswa
2.
Hipotesis
kedua: Motivasi belajar berpengaruh positif terhadap prestasi belajar
mahasiswa.
3.
Hipotesis
ketiga: Aktifitas organisasi Himpunan Mahasiswa Program Studi dan motivasi
belajar berpengaruh positif terhadap prestasi belajar.
Minggu, 24 April 2016
LAYANAN DALAM BIMBINGAN KONSELING
A.
KEGIATAN
LAYANAN
1. Layanan
Orientasi
Yaitu layanan bimbingan dan konseling yang
memungkinkan peserta didik memahami lingkungan (seperti lingkungan sekolah)
baru dimasuki peserta didik, untuk mempermudah dan memperlancar berperanya
peserta didik dilingkungan yang baru itu.
Pelayanan
orientasi biasanyadilaksanakan pada awal program pelajaran baru yang mencakup
organisasi sekolah, staf dan guru, kurikulum, program BK, Program
ekstrakulikuler, fasilitas atau sarana pra sarana dan tata tertib sekolah.
Beberapa hal
yang perlu diperhatikan dalam pemberian layanan orientasi adalah:
a. Program
orientasi yang efektif mempercepat proses adapatasi, dan memberikan kemudahan
untuk mengembangkan kemampuan memecahkan masalah.
b. Murid-murid
yang mengalami masalah penyesuaian ternyata kurang berhasil disekolah.
c. Anak-anak
dari lelas sosial ekonomi yang rendah memerlukan waktu yang lebih lama untuk
menyesuaikan diri, dari pada anaak-anak dari kelas sosial ekonomi yang lebih
tinggi.
Ada baiknya
layanan orientasi juga diberkan kepada orang tua siswa juga,hal ini dikarenakan
pemahaman orang tua terhadap berbagai materi orientasi akan membantu mereka
dalam memberikan kemudahan dan pelayanan kepada anak-anaknya untuk dapat
mengikuti pendidikan di sekolah dengan sebain-baiknya.
2. Layanan
Informasi
Yaitu
layanan yang memungkinkan peserta didik menerima dan memahami berbagai
informasi (seperti informasi pendidikan, jabatan dll) yang dapat dipergunakan
sebagai bahan pertimbangan dan pengambilan keputusan untuk kepentingan peserta
didik.
Menurut
Prayitno & Erman Amti (2004:260-261)ada tiga alasan utama mengapa layanan
informasi perlu diselenggarakan.
a. Membekali
individu dengan berbagai macam pengetahuan tentang lingkungan yang diperlukan
untuk memecahkan masalah yang dihadapi berkenaan dengan lingkungan sekitar,
pendidikan, jabatan, maupun sosial budaya.
b. Memungkinkan
individu dapat menentukan arah hidupnya “kemana dia ingin pergi”. Syarat
dasar untuk dapat menentukan arah hidup adalah apabila ia mengetahui apa
(informasi) yang harus dilakukan serta bagaimana bertindak secara kreatif dan
dinamis berdasarkan atas informasi-informasi yang ada itu.
c. Setiap
individu adalah unik.
Menurut Prayitno
&Erman Amti (2004:261-268) pada dasarnya jenis dan jumlah informasi tidak
terbatas.
1) Informasi
pendidikan
Dalam bidang pendidikan banyak
individu yang berstatus siswa atau calon siswa yang dihadapkan pada kemungkinan
timbulnya masalah atau kesulitan. Diantara masalah atau kesulitan tersebut
berhubungan dengan (a) pemilihan program studi, (b) pemilihan sekolah fakultas
dan jurusannya, (c) penyesuaian diri dengan program studi, (d) penyesuaian diri
dengan suasana belajar, dan (e) putus sekolah. Mereka membutuhkan adanya
keterangan atau informasi untuk dapat membuat pilihan dan keputusan yang
bijaksana.
2) Informasi
jabatan
Saat-saat transisi dari dunia
pendidikan kedunia kerja sering merupakan masa yang sangat sulit bagi banyak
orang muda. Kesulitan itu terletak tidak saja dalam mendapatkan jenis pekerjaan
yang cocok, tetapi juga dalam penyesuaian diri dengan suasana kerja yang baru
dimasuki dan pengembangan diri selanjutnya.
3) Informasi
sosial budaya
Hal ini dapat dilakukan melalui
penyajian informasi sosial budaya yang meliputi, macam-macam suku bangsa, adat
istiadat, agama dan kepercayaan, bahasa, potensi-potensi daerah dan kekhususan
masyarakat atau daerah tertentu.
Metode
Layanan Informasi
Menurut Prayitno
&Erman Amti (2004:269-271) Pemberian informasi kepada siswa dapat dilakukan
dengan berbagai cara sebagai berikut:
a. Ceramah
b. Diskusi
c. Karya
Wisata
d. Buku
panduan
e. Konferensi
karier
3. Layanan
Penempatan/ Penyaluran
Yaitu
layanan yang memungkinkan peserta didik memperoleh penempatan dan penyaluran
yang tepat (di dalam kelas, kelompok belajar, jurusan/program studi, program
latihan, magang, dan kegiatan ekstra kurikuler) sesuai dengan potensi, bakat
dan minat serta kondisi pribadinya.
Jenis-jenis layanan penempatan dan penyaluran
1) Penempatan
dan Penyaluran Siswa di Sekolah
Penempatan
dan penyaluran siswa di sekolah sangatlah diperlukan
karena hal ini dapat memberikan penyesuaian dan pemeliharaan terhadap
kondisi diri siswa. Adapun jenis-jenis dari layanan penempatan dan penyaluran siswa di sekolah tersebut yaitu:
karena hal ini dapat memberikan penyesuaian dan pemeliharaan terhadap
kondisi diri siswa. Adapun jenis-jenis dari layanan penempatan dan penyaluran siswa di sekolah tersebut yaitu:
a.
Layanan penempatan di dalam kelas
b.
Penempatan dan penyaluran ke dalam
kelompok belajar.
c.
Penempatan dan penyaluran kedalam
kegiatan ekstra kurikuler
d.
Penempatan dan penyaluran ke
jurusan/program studi
2) Penempatan
dan penyaluran lulusan
Setelah
menjalani pembelajaran selama 12 tahun, seorang siswa pasti mempunyai cita-cita
untuk melanjutkan studinya ke jenjang yang lebih tinggi atau bahkan ingin
langsung bekerja. Oleh karena itu, layanan penempatan dan penyaluran ini
diorientasikan pada pendidikan lanjutan dan pekerjaan/jabatan.
a.
Penempatan dan penyaluran ke dalam
pendidikan lanjutan
b.
Penempatan dan penyaluran ke dalam
pekerjaan/ jabatan
4. Layanan
Pembelajaran
Yaitu
layanan bimbingan dan konseling yang memungkinkan peserta didik mengembangkan
diri berkenaan dengan sikap, kebiasaan belajar yang baik, materi belajar yang
cocok dengan kecepatan dan kesulitan belajarnya serta berbagai aspek tujuan dan
kegiatan belajar lainya.
Metode dan teknik
a.
Penguasaan konten Seorang
konselor menguasai konten dengan berbagai aspeknya yang akan menjadi isi
layanan. Hal yang paling penting adalah daya inprovisasi konselor dalam
membangun konten yang dinamis dan kaya.
b.
Teknik
·
Penyajian, konselor menyajikan pokok
konten setelah para peserta disiapkan sebagaimana mestinya.
·
Tanya jawab dan diskusi, konseor
mendorongpartisipasi aktif dan langsung peserta didik.
·
Kegiatan lanjutan, sesuai dengan
penekanan aspek tertentu dari konten dilakukan berbagai kegiatan
lanjutan berupa :
-
Diskusi kelompok
-
Penugasan dan latihan terbatas
-
Survey
lapangan, studi keputusan
-
Percobaan
-
Latihan tindakan
c.
Media
pembelajaran
Menggunakan berbagai alat peraga (alat peraga
langsung, contoh, replica, dan miniature), media tulis dan grafis, peralatan
dan program elektronik (radio dan rekaman, OHP, computer, LCD), penggunaan
media ini akan meningkatkan aplikasi high-tech.
d.
Waktu dan
tempat
Layanan PKO dapat dilaksanakan kapan saja dan dimana
saja sesuai dengan kesepakatan konselor dengan peserta layanan, makin besar
paket konten semakin banyak waktu yang diperlukan.
e.
Penilaian
Secara umum penilaian terhadap hasil layanan PKO
diorientasikan yang akan diperolehnya UCA (Understanding – pemahaman, Confort –
perasaan lega, dan Action – rencana kegiatan pasca layanan). Secara khusus,
penialaian layanan PKO ditekankan kepada penguasaan peserta atau klien atas
aspek-aspek konten yang dipelajari. Penilaian hasil layanan diselenggarakan
dalam tiga tahap :
·
Penilaian segera (laiseg), penilaian
yang diadakan segera menjelang diakhirinya setiap layanan kegiatan
·
Penilaian jangka pendek (laijapen),
penilaian yang diadakan beberapa waktu (satu minggu sampai satu bulan) setelah
layanan kegiatan.
·
Penilaian jangka panjang (laijapan),
penilaian yang dilakukan setelah satu bulan atau lebih pasca layanan. Laijapen
dan laijapan dapat mencakup penilaian terhadap konten untuk sejumlah sesi
layanan PKO, khususnya untuk rangkaian konten-konten yang berkelanjutan. Format
dan penilaian dapat tertulis maupun lisan.
f.
Keterkaitan
Diantara berbagai layanan konseling, layanan PKO dapat
berdiri sendiri. Selain itu layanan PKO dapat menjadi isi layanan-layanan
konseling lainnya. Dengan demikian, upaya penguasaan konten tertentu dapat di
integrasikan ke dalam layanan orientasi, informasi, penempatan, dan penyaluran,
konseling perorangan, bimbingan kelompok, konseling kelompok, konsultasi dan
mediasi. Bentuk keterkaitannya dapt berupa integrasi, dan juga tindak lanjut.
Dalam menangani seseorang atau sejumlah klien, konselor perlu mencermati
kebutuhan klien dalam penanganan masalahnya.
5. Layanan
Konseling Perorangan
Yaitu
layanan bimbingan dan konseling yang memungkinkan peserta didikmendapatkan
layanan langsung tatap mukadengan guru BK dalam rangka pembahasan dan
pengentasan permasalahan pribadi yang di deritanya.
6. Layanan
Bimbingan Kelompok
Yaitu
layanan bimbingan dan konseling yang memungkinkan peserta didik secara
bersama-sama melalui dinamika kelompok memperoleh berbagai bahan dari nara
sumber tertentu
7. Layanan
Konseling Kelompok
Yaitu
layanan bimbingan dan konseling yang memungkinkan peserta didik memperoleh
kesempatan untuk pembahasan dan pengentasan permasalahan yang dialaminya
melalui dinamika kelompok, masalah yang dibahas adalah masalah-masalah pribadi
yang dialami oleh masing-masing anggota kelompok.
Materi
layanan konseling kelompok dapat mencakup hal-hal sebagai berikut (Prayitno
dalam Vitalis, 2008:64):
a.
Pemahaman dan pengembangan sikap,
kebiasaan, bakat, minat, dan penyalurannya
- Pemahaman kelemahan diri dan
penanggulangannya, pengenalan kekuatan diri dan perkembangannya
- Perencanaan dan aktualisasi
diri
- Mengembangkan kemampuan
berkomunikasi, menerima atau menyampaikan gagasan, ide, opini, perilaku,
dan hubungan sosial
- Mengembangkan hubungan dengan
peer group, baik di sekolah maupun di luar sekolah
- Mengembangkan sikap dan
kebiasaan belajar, disiplin belajar, dan berlatih, serta melatih
teknik-teknik penguasaan materi pelajaran
- Pemahaman kondisi fisik,
sosial, dan budaya dalam kaitannya dengan orientasi belajar di Perguruan
Tinggi
- Mengembangkan kecenderungan
karier yang menjadi pilihannya
- Orientasi dan informasi karier,
dunia kerja, dan prospek masa depan
- Pemantapan dalam mengambil
keputusan dalam rangka perwujudan diri.
Teknik Layanan Konseling Kelompok
Terdapat dua teknik layanan konseling kelompok antara lain (Tohirin,
2007:182):
1.
Teknik
Umum (pengembangan dinamika kelompok)
Secara umum,
teknik-teknik yang digunakan dalam penyelenggaraan layanan konseling kelompok
mengacu kepada berkembangnya dinamika kelompok yang diikuti oleh seluruh
anggota kelompok untuk mencapai tujuan layanan. Adapun teknik-teknik tersebut
secara garis besar meliputi antara lain :
a. Komunikasi
multi arah secara efektif dinamis dan terbuka
b.
Pemberian rangsangan untuk
menimbulkan inisiatif dalam pembahasan, diskusi, analisis, dan pengembangan
argumentasi
c.
Dorongan minimal untuk memantapkan
respon aktivitas anggota kelompok
d.
Penjelasan, pendalaman, dan
pemberian contoh untuk lebih memantapkan analisis, argumentasi, dan pembahasan
e.
Pelatihan untuk membentuk pola
tingkah laku baru yang dikehendak
2.
Teknik
Permainan Kelompok
Dalam
layanan konseling kelompok dapat diterapkan teknik permainan baik sebagai
sebagai selingan maupun sebagai wahana (media) yang memuat materi pembinaan
tertentu. Permainan kelompok yang efektif harus memenuhi cirri-ciri sebagai
berikut :
a.
Sederhana
b. Menggembirakan
c. Menimbulkan
suasana rileks dan tidak melelahkan
d. Meningkatkan
keakraban
e. Diikuti oleh
semua anggota kelompok
B.
KEGIATAN
PENDUKUNG
1.
Aplikasi
Instrumentasi
Yaitu kegiatan pendukung untuk mengumpulkan
data dan keterangan tentang diri peserta didik (konseli), lingkungan maupun
lingkungan yang lebih luas.
2.
Penyelenggaraan
Himpunan Data
Yaitu kegiatan pendukung bimbingan
dan konseling untuk menghimpun seluruh data dan keterangan yang relevan dengan
keperluan pengembangan peserta didik (konseli).
3.
Konferensi Kasus
Yaitu kegiatan pendukung bimbingan
dan konseling untuk membahas permasalahan yang dialami oleh peserta didik
(konseli) dalam suatu forum pertemuan yang dihadiri oleh berbagai pihak.
4.
Kunjungan Rumah
Yaitu kegiatan pendukung bimbingan
dan konseling untuk memperoleh data, keterangan, kemudahan bagi terentaskanya
permasalahan yang dialami peserta didik (konseli) melalui kunjungan rumahnya.
Langganan:
Postingan (Atom)